KEUTAMAAN MAJELIS DZIKIR DI ERA MODERNISASI DAN GLOBALISASI KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

  • ana cahayani fatimah STIT Sunan Giri Bima
Keywords: Keutamaan Majelis, Dzikirullah

Abstract

ABSTRAK

Artikel ini mengkaji tentang Keutamaan Majlis Dzikir dengan fokus bahasan siapa saja yang meriwayatkan hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir?, Bagaiman takhrij  dan i’tibar sanad hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir? Dan Bagaimana kandungan (syarah) hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir. Adapun metode yang digukan untuk menjawab fokus kajian adalah library researc dengan menggunakan pendekatan normatif deskriptif yang menekankan pada analisis sumber-sumber data yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh (1) al-Bukhariy (2) Muslim  dan (3) Ahmad Bin Hanbal. Sanad dari 3 mukharrij tersebut dengan melalui lima jalur sanad kesemuanya bertemu di tabaqah ke empat yaitu Bahz dari Wuhaib dari Suhail dari Abih dari Abi Hurairah. kegiatan takhrij dan I’tibar dari jalur ahmad bin Hanbal secara cermat, ditemukan periwayat sanad sebagai berikut: (1) Abi Hurairah sebagai perawi pertama sanad terkahir (2) Abih sebagai perawi kedua sanad  V, (3) Suhail sebagai perawi ketiga sanad  IV, (4) Wuhaib sebagai perawi keempat sanad III (5) Affan sebagai perawi kelima sanad II dan (6) Ahmad bin Hanbal sebagai perawi terakhir sekaligus sabagai al-Mukharrij al-Hadits. secar implisit ketika diperhatikan matan hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, yang datang dari Yahya bin Sa’id dari Abdillah bin Sa’id dari Abi Ziyad Mawla Ayyasy dari Abi Darda’ yaitu pertanyaan Rasulullah kepada Sahabat adapun isi dari pertanyaannya tersebut adalah Rasulullah bersabda; ”Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari diberi emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Apa yang demikian itu Ya Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung”.

KATA KUNCI: Keutamaan Majelis, Dzikirullah.

 

PENDAHULUAN

  1. Kontek Penelitian

Era modernisasi dan globalisasi mengakibatkan perubahan drastis dihampir semua lini kehidupan bermasyarakat mulai dari pola pikir, pendidikan, informasi, transportasi, tata hidup dan tata komunikasi. Modernisasi adalah kondisi dimana suatu lingkungan yang kurang atau belum maju mengalami perubahan menuju kekondisi yang lebih baik dari sebelumnya, lebih sejahtera dan lebih makmur. Modernisasi lebih cenderung melekat pada bidang perubahan perkembangan pada pendidikan dan teknologi yang lebih baik dan lebih canggih secara khusus. Modernisasi ini lebih cenderung pada peningkatan dalam berbagai bidang termasuk ke dalam kemanusian dan peradaban yang tinggi dan berkualitas. Begitupun globalisasi yang di artikan proses dimana suatu individu, kelompok atau masyarakat luas terhubung satu sama lain dalam komunikasi global yang bersatu dan berintegrasi dalam hubungan kegiatannya sehari sehari.

Akhir akhir ini muncul permasalahan yang sangat urgen untuk dikaji terkait “adanya beberapa kelompok yang sering menolak, melarang bahkan membubarkan pengajian atau majeles dakwah, majelis ilmu dan majelis dsikir yang diselenggarakan oleh masyrakat di berbagai daerah yang ada ditanah air tercinta ini, demi mendapat solusi penulis akan melakukan kajian terkait sala satu dari beberapa permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya yaitu terkait “majelis Dsikir”. Dari beberapa riwayat dikatakan para malaikat yang berkeliling di muka bumi. Mereka mencari majlis-mejlis dzikir." Yang dimaksud dengan majlis dzikir adalah tempat-tempat yang dipergunakan untuk berdzikir mengingat Allah Ta'ala. “Mereka saling menyeru.” Maksudnya, bahwa sebagian malaikat menyeru kepada sebagian yang lain. Yang mereka serukan adalah kalimat, "Kemarilah menuju kepada yang kalian perlukan yang menjadi tujuan kalian." Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam beberapa riwayat hadits. “Lalu para malaikat itu menyelimuti mereka dengan sayapnya” Maksudnya, para malaikat menyelimutkan sayapnya pada  orang-orang yang berdzikir, dan mereka pun memenuhi angkasa raya hingga ujung ketinggian langit dunia. Di dalam riwayat Muslim ada tambahan kalimat fudhlan yang merupakan bentuk jama’ atau plural dari kalimat fadhilun. Sama seperti kalimat nuzulan adalah bentuk jama’ atau plural dari kalimat nazil. Kalimat tersebut adalah sifat atau predikat kalimat al sayyarat (para malaikat yang berkeliling ke bumi). Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan :”Sebagai malaikat-malaikat yang ditambahkan selain para pencatat amalan" Maksudnya : Sesungguhnya mereka itu bukan malaikat yang bertugas mencatat amal kebaikan dan amal keburukan. Mereka itu kelompok malaikat yang lain lagi. Mereka juga bukan termasuk malaikat  pengawas. Tetapi mereka adalah malaikat yang tugasya hanya berkeliling di majlis-majlis dzikir. Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan fa yahuffunahum bi ajnihatihim (lalu para malaikat itu saling menyelimuti mereka dengan sayap-sayapnya). Sementara dalam riwayat Muslim disebutkan haffa ba’dhuhum ba’dhan bi anjihatihim (sebagian malaikat itu menyelimuti sebagian yang lain dengan sayapnya). Dua versi kalimat ini tidak bertentangan, karena yang dimaksud ialah, para malaikat mengelilingi orang-orang yang sedang berdzikir, lalu sebagian mereka menyelimuti sebagian yang lain. Artinya, para malaikat itu sama mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya.“ dan Dia lebih tahu akan keadaan mereka.” Maksudnya, Allah tahu akan  keadaan hamba-hamba-Nya tersebut. Ini disebut jumlah mu'taridhah (rangkaian kalimat sisipan) Tujuannya ialah untuk menolak gambaran seolah-olah Allah bertanya itu karena tidak tahu. Dan alasan kenapa Allah bertanya kepada para malaikat tentang manusia, adalah sebagai bukti keutamaan makhluk manusia atas malaikat yang mengatakan seperti yang dikutip dalam firman Allah Q.S. al-Baqarah (2) : 30

øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès?

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

  Pada waktu itulah para malaikat menyaksikan sendiri bahwa manusia juga sama mensucikan dan memuliakan Allah sedangkan mereka tidak melihat-Nya. Padahal di sisi lain mereka diciptakan dengan memiliki dorongan nafsu. Berbeda dengan malaikat yang diciptakan Allah tanpa memiliki dorongan nafsu. Hal itu merupakan bentuk pengakuan malaikat atas keutamaan manusia. “Mereka semua itu adalah kaum, orang-orang yang duduk bersama mereka tidak akan celaka.” Maksudnya, orang lain yang duduk bersama mereka dalam majlis dzikir itu tidak akan celaka. Allah Ta'ala akan memberikan ampunan kepada setiap orang yang ikut bergabung dalam majlis orang-orang yang berdzikir, kendatipun kehadirannya ke tempat tersebut adalah untuk kepentingan pribadi, bukan berniat untuk berdzikir bersama-sama mereka. Sebab, menghadiri majlis dzikir itu dapat menghidupkan hati yang mati, sehingga hati orang yang datang ke majlis dzikir akan ikut hidup, sekalipun kedatangannya bukan dimaksudkan untuk berdzikir. Karunia Allah Ta'ala sangat  besar. Ulasan tadi menunjukkan betapa tinggi nilai menghadiri majlis dzikir, dan majlis ibadah. Yang disebut majlis dzikir itu mencakup semua jenis ibadah; seperti kajian ilmu, mendiskusikannya, membaca Al Qur'an, berdzikir, membaca tahlil, dan lain sebagainya. Semua majlis tersebut adalah majlis-majlis yang penuh dengan cahaya dan makna kehidupan.  Hadis yang menjelaskan bahwa Malaikat- malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis dzikir, adalah matan hadisnya:

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ

Untuk mengetahui kualitas beberapa hadis terkait majelis dsikir dan untuk mengetahui syarah dan kandungannya  perlu diadakan kajian tahqiq sehingga memudahkan kepada masyarakat dalam memahami dan mengamalkan informasi yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw semasa hidupnya.      

 

Fokus Penelitian

            Agar penelitian hadis ini menjadi jelas sesuai pokok bahasan yang diangkat berdasarkan uraian latar belakang, di atas maka penulis dapat merumuskan pokok permasalahan sebagai berikut:

  1. Siapa saja yang meriwayatlkan hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir?
  2. Bagaiman takhrij dan i’tibar sanad hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir?
  3. Bagaimana kandungan (syarah) hadis tentang Keutamaan Majlis Dzikir

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah kepustakaan (Library Research). Dalam hal ini penulis menggunakan pendekatan normatif deskriptif yang menekankan pada analisis sumber-sumber data yang ditemukan. studi kepustakaan merupakan segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis, disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis lain baik tercetak maupun elektronik.

PEMBAHASAN

Takhrij Hadis

   Periwayatan hadis dengan menyebutkan sanad nya mulai dari mukharrij nya  dan perawinya apabila sampai kepada Rasul saw maka hadis tersebut marfu’  dan apabila hanya sampai kepada sahabat maka hadis tersebut maqtu’.[1] Dalam pelaksanaan takhrij ini penulis menggunakan metode takhrij bi al-lafazh dengan menggunakan petunjuk kamus hadis al-Mu’jam ditemukan potongan matan hadis سيرة  terdapat dalam :

  1. Bukhari dalam al-Shahih Kitab al-Tawhid bab, Fadhl al-Dzikr Allah ‘Azza wa Jalla, 5929
  2. Muslim dalam al-Shahih Kitab al-Dzikr wa al-Du’a wa al-Tawbah bab Fadhl Majlis al-Dzikr 4854
  3. Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad Kitab Musnad al-Muksyirin 7117, 8714

Di bawah ini susunan lengkap teks sanad dan matan hadis dikemukakan menurut  periwayatan yang telah dilakukan oleh Mukharrij :  

  1. Bukhari dalam al-Shahih Kitab al-Tawhid ada satu jalur[2] No. 5929 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis dzikir, jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah mereka memanggil teman-temannya seraya berkata; 'Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.' Lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi. Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu dari mereka; 'Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka mensucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.' Allah berfirman: 'Apakah mereka melihat-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi mensucikan Engkau, ' Allah berfirman: 'Lalu apa yang mereka minta? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka meminta surga.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.' Allah berfirman: 'Lalu dari apakah mereka meminta berlindung? ' Para malaikat menjawab; 'Dari api neraka.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.' Allah berfirman: 'Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.'" Beliau melanjutkan: 'Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Beliau melanjutkan; 'Salah satu dari malaikat berkata; 'Sesungguhnya diantara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan? ' Allah berfirman: 'Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya bagi temannya.'

  1. Muslim dalam al-Shahih Kitab al-Dzikr wa al-Du’a wa al-Tawbah bab Fadhl Majlis al-Dzikr[3] No. 4854

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

  1. Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad Kitab Musnad al-Muksyirin[4] No. 7117, 8714

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَوْ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ هُوَ شَكَّ يَعْنِي الْأَعْمَشَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فُضُلًا عَنْ كُتَّابِ النَّاسِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى بُغْيَتِكُمْ فَيَجِيئُونَ فَيَحُفُّونَ بِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ اللَّهُ أَيَّ شَيْءٍ تَرَكْتُمْ عِبَادِي يَصْنَعُونَ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ يَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ وَيَذْكُرُونَكَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي فَيَقُولُونَ لَا فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ لَكَانُوا أَشَدَّ تَحْمِيدًا وَتَمْجِيدًا وَذِكْرًا فَيَقُولُ فَأَيَّ شَيْءٍ يَطْلُبُونَ فَيَقُولُونَ يَطْلُبُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ فَيَقُولُونَ لَا فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا قَالَ فَيَقُولُ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَتَعَوَّذُونَ فَيَقُولُونَ مِنْ النَّارِ فَيَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَا قَالَ فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا هَرَبًا وَأَشَدَّ مِنْهَا خَوْفًا قَالَ فَيَقُولُ إِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ فَيَقُولُونَ فَإِنَّ فِيهِمْ فُلَانًا الْخَطَّاءَ لَمْ يُرِدْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَلَائِكَةً فُضُلًا يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الذِّكْرِ فَإِذَا مَرُّوا بِمَجْلِسٍ عَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ حَتَّى يَبْلُغُوا الْعَرْشَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ مِنْ عِنْدِ عَبِيدٍ لَكَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ وَيَتَعَوَّذُونَ بِكَ مِنْ النَّارِ وَيَسْتَغْفِرُونَكَ فَيَقُولُ يَسْأَلُونِي جَنَّتِي هَلْ رَأَوْهَا فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا وَيَتَعَوَّذُونَ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّ فِيهِمْ عَبْدَكَ الْخَطَّاءَ فُلَانًا مَرَّ بِهِمْ لِحَاجَةٍ لَهُ فَجَلَسَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَبْتَغُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ وَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ فَحَضَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا أَوْ صَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَاكَ مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ قَدْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ مِمَّ يَسْتَجِيرُونِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ وَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Untuk mengetahui periwayat hadis yang terlibat di dalam rangkaian sanad hadis yang telah ditakhrij adalah dengan I‘tibar Sanad  yaitu melibatkan sanad-sanad hadis yang lain untuk suatu hadis sehinngga dapat ditemukan metode periwayatan hadis yang berstatus mutabi’i dan syahid  atas hadis tersebut.

 

I ‘tibar Sanad.

            Dalam i’tibar sanad ini diuraikan setiap jalur sanad yang ada dalam satu skema, dari sekma tersebut akan tampak masing-masing lambang dari metode periwayatan yang digunakan oleh perawi, di samping itu akan jelas pula ada tidaknya pendukung (mutabi’) bagi perawi yang dikritik oleh ulama tentang ke-tsiqahan-nya sehingga riwayat yang disampaikan oleh perawi yang bersangkutan dapat meningkatkan derajatnya. Untuk lebih jelasnya maka diperlukan pembuatan skema untuk seluruh sanad hadis yang dikaji, karena dengan adanya skema akan tampak jalur-jalur antara perawi yang satu dengan yang lainnya. Setelah diteliti dengan seksama bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal yang membahas tentang sedekah adalah Hasan dengan sanad ahad karena hanya Abdullah bin Mas’ud yang meriwayatkan. Dikatakan hasan karena para ulama hadis menyatakan tentan para perawi hadis yaitu Usamah pernah Yudallis yang jelas dan al-A’masy orangnya Hafizh ‘Alim namaun terkadang juga Yudallis (menyembunyikan nama gurunya karena disebabkab kurang kuat . Berkaitan dengan itu maka dibawah ini digambarkan skema sanad hadis yang dikaji yaitu:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari skema sanad hadis tersebut tampak bahwa pada: 1)Di dalam riwayat hadis al-Bukhariy, yaitu: Qutaibah bin Sa’id menerima hadis dari Jarir dari Abi al-A’masy dari Abi Shalih dari Abi Hurairah sebagai tabaqah pertama. 2) Sanad hadis pada riwayat Muslim  yaitu (a) Muhammad bin Hatim, (b) Bahz (c). Wuhaib, (d) Syuhail, (e) Abih (Dzakwan). Dan 3) Ahmad Bin Hanbal menerima hadis dari Abu Muawiyah  juga dari al-A’masy dari abi Shalih di samping itu Ahmad juga menerima hadis Yahya dari Zuhair dari Abi Shalih dari Abi Hurairah atau dari Abi Sa’id dan menerima juga hadis dari Affan juga dari Wuhaib dari Suhail dan Abih dari Abi Hurairah. Sanad dari 3 mukharrij tersebut dengan melalui lima jalur sanad kesemuanya bertemu di tabaqah ke empat yaitu Bahz dari Wuhaib dari Suhail dari Abih dari Abi Hurairah. Dari skema itu juga diketahui bahwa tahammul ada al-hadis yang digunakan para periwayat bervariasi, yakni haddatsana, tsana, akhbarana, anba ana dan an, ini membuktikan bahwa periwayat hadis memiliki cara atau metode periwayatan yang berbeda.

Penelitian  Sanad dan Matan Hadis.

Karena sanad hadis yang akan diteliti seperti yang diketahui berjumlah banyak melalui kegiatan takhrij dan I’tibar  maka salah satu sanad yang akan diteliti penulis adalah dari jalur ahmad bin Hanbal untuk diteliti langsung secara cermat, dengan urutan periwayat sanad sebagai berikut: 1) Abi Hurairah sebagai perawi pertama sanad terkahir, 2) Abih sebagai perawi kedua sanad  V, 3) Suhail sebagai perawi ketiga sanad  IV. 4) Wuhaib sebagai perawi keempat sanad III, 5) Affan sebagai perawi kelima sanad II, 6) Ahmad bin Hanbal sebagai perawi terakhir sekaligus sabagai al-Mukharrij al-Hadits

Penelitian  Sanad. 

Dalam penelitian  sanad dilakukan penilain pada salah satu jalur sanad yang dipilih dengan memaparkan pendapat ulama terhadap masing-masing periwayat tentang kredibilitas  ( pujian dan celaan) dalam periwayatan hadis baik nama gurunya ( tempat dia menerima hadis).

  • Abu Hurairah

Abu Hurairah memeluk Islam sejak di Yaman di hadapan al-Thufail ibn Amr, dan hijrah ke Madinah bergabung dengan Rasul Allah Saw., pada saat penaklukan Khaibar tahun ke 7 Hijrah[5]. Abu Hurairah senantiasa bersama Rasul Saw., selama lebih kurang tiga tahun hingga Rasul Saw., wafat. Dengan demikian sebagian besar hadis yang diriwayatkannya langsung dari Rasul Saw., menurut Ibn al-Jauzi meskipun tiga tahun adalah waktu yang relatif singkat tetapi ada sejumlah 5374 hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah yang terdapat dalam Musnad Baqi dan 3848 hadis di dalam Musnad Ibn Hanbal, dan 325 hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari Muslim, 93 diantaranya diriwayatkan oleh Bukhari saja dan 189 hadis diriwayatkan oleh Muslim saja. Sementara menurut Ahmad Syakir, setelah dikeluarkan hadis-hadis yang berulang maka jumlah hadis yang diriwayatkannya ada 1579 hadis.

Selain menerima langsung dari Rasul Saw., Abu Hurairah juga meriwayatkan hadist dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ubai bin Ka’ab, Utsman bin Za’id, Aisyah Kaab al-Ahbar dan sahabat lainnya. Sedangkan yang meriwayatkan darinya terdiri dari para sahabat dan tabi’in. Diantaranya sahabat yang meriwayatkan darinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Sa’id bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi. Bahkan diantara tabi’in (berdasarkan penelitian Azami) ada yang meriwayatkan hadis-hadis dari Abu Hurairah dalam bentuk tertulis (shahifah, nuskhah) diantaranya; Abd al-Aziz ibn Marwan, Abu Shalih al-Samman, Hammam ibn Munabbih, Marwan ibn Hakam dan lain-lain[6]

Riwayat yang ashah al-asanid (Sanad paling shahih) adalah yang melalui jalur Ibnu Shihab al-Zuhr, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah. Sedangkan yang paling dhaif adalah jalur al-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari ayahnya Yazid al-Audi dari Abu Hurairah. Abu Hurairah yang wafat tahun 59H.  sangat dikagumi kehafizannya oleh Imam Syafi’i.

Ulama hadits telah bersepakat tentang kredibilitas kedhabitannya seorang Sahabat tidak diragukan lagi

  • Abih

Nama lengkapnya adalah    : Dzakwan

Tabaqah (kelompok ulama : al-Wustha Min al-Tabiin

Gelar (Kun-yah)                  : Abu Shalih

Wafat                                  : Madinah pada tahun 101 H

            Gurunya antara lain Ibrahim bin Abdillah, Ishaq Mawla Zaidah, Jabir bin Abdillah, Ramlah binti Abi Sufyan, Sa’d bin Abi Waqash, Sa’d bin Tharif, Sa’d bin Malik, Aisyah binti Abi Bakar al-Shiddiq, Abd. al-Rahman bin Tsabit dan Abu Hurairah. Muridnya antara lain, Ibrahim bin Maimun, Azraq bin Qais, Ishaq bin Abdillah bin Abi Zaidah, Bukair bin Abdillah, Habib bin Abi Tsabit, Hahdir bin Lahaq dan al-A’masy. Pujian para ulama hadis terhadap kredibilitas Dzakwan adalah sebagai berikut: Ahmad bin Hanbal berkata bahwa Abih (Dzakwan) adalah seorang yang tsiqah, tsiqah, sementara Yahya bin Ma’in dan Muhammad bin Sa’d menyatakan bahwa Abih (Dzakwan) adalah seorang yang tsiqah, selanjutnya al-Baji mengatakan bahwa Abih (Dzakwan) adalah seorang yang tsiqah shuduq. Dan Abu Hatim al-Razy dan Abu Zar’ah al-Razy sepakat bahwa Abih (Dzakwan) adalah seorang yang tsiqah shahih al-Hadits, mustaqim al-Hadits[7].

  • Wuhaib

Nama lengkapnya adalah    : Wuhaib bin Khalid bin Ajlan

Tabaqah (kelompok ulama : Kibar al-Itba’

Gelar (Kun-yah)                  : Abu Bakr

Julukan (Alqab)                   : Shahib al-Kurbis

Wafat                                  : Bashrah tahun 165 H

Gurunya adalah Ayub bin Abi Tamimah, Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain, Hamid bin Abi Hamid, Khalid bin Mahran, Dawud bin Abi Hindi Dinar, Sa’id bin Abi ‘Arubah, Sa’id bin Iyas, Salamah bin Dinar dan Suhail. Muridnya adalah  Ibrahim bin al-Hajjaj bin Zaid, Ahmad bin Ishaq, Ismail bin Ibrahim bin Muqsim, Bahzn bin Hisyam, Hamad bin Usmaha dan Affan.

Pujian para ulama hadis terhadap kredibilitas Wuhaib adalah sebagai berikut: Abu Dawud berkata bahwa Wuhaib adalah seorang yang tsiqah akan tetapi taghayyir, (berubah) setelah tua, Abu Hatim al-Razy menyatakan bahwa Wuhaib adalah seorang yang tsiqah, selanjutnya al-‘Ajaly mengatakan bahwa Wuhaib adalah seorang yang tsiqah, tsubut dan Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa haditsnya boleh diamalkan

  • Affan

Nama lengkapnya adalah    : Ali bin Muslim bin Abdillah, 

Tabaqah (kelompok ulama : Kibar tabi’ al-Itba’

Gelar (Kun-yah)                  : Abu Utsman

Julukan (Alqab)                   : al-Shafar

Wafat                                  : Bashrah tahun 219 H

Gurunya adalah Ibnu bin Yazid, Ibrahim bin Abd. al-Malik, al-Aswad bin Syaiban, Ayyub bin Abi Syaibah Kaisan, Bisyr bin al-Mufadhal bin Lahaq, Bukair bin Abi al-Asamit, Tsabit bin Yazid, Jarir bin Hazn bin Zaid, Ja’far bin Hind an Wuhaib. Muridnya adalah Ibrahim bin Ya’qub bin Ishaq, Ahmad bin Sulaiaman, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, Hajaj bin Yusuf, al-Hasan bin Ali bin Muhammad, al-Husain bin Isa bin Himran dan Zuhair bin Harb.

  • Ahmad bin Hanbal

Nama lengkapnya             : Abu Abdillah bin Muhammad bin Hanbal al-Marwazy 

Tabaqah (kelompok ulama : Kibar tabi’ al-Itba’

Gelar (Kun-yah)                  : Ahmad bin Hanbal

Wafat                                  : Bagdad 241 H

 

  Gurunya antara lain. Sufyan bin Uyainah, Ibrahim bin Sa’d, Yahya bin Qaththan. Ulama yang pernah mengambil hadis dari beliau adalah Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Abi Dun ya dan Ahmad bin Abi al-Haramy. Pujian ulama Hadis terhadap kredibilitas pribadinya adalah para ulama hadis telah bersepakat bahwa para pentadwin dan al-Mukharrij al-Hadits tidak diragukan lagi kedhabitan, dan ketsiqahannya.

Para perawi hadis di atas memiliki ketersambungan sanad, dengan kata lain sanadnya adalah mutasshil, karena masing-masing dari mereka memiliki sifat yang terpuji, yakni tsiqah, hafizh, tsubut, mina al-Hafizh al-Muttaqin dan sifat terpuji lainnya[8], sehingga dapat dinyatakan bahwa hadisnya dapat diterima. Karena sanad hadis tersebut marfu’,mutashil (bersambung) dengan sanad ahad dan dari segi periwayatannya adalah maqbul. Jadi dapat dinyatakan bahwa sanad hadis yang dimaksud adalah Shahih.

Syarah  Hadis (Pemahaman Kandungan Hadis)

Berdzikir kepada Allah  merupakan suatu rangkaian shalat wajib  dan merupakan rangkaian sala satu rukun Islam yang lima, dan al-Qur’an pada Q.S. al-Ahzab (33):41-42

$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0ø$# ©!$# #[ø.Ï #ZÏVx. *   çnqßsÎm7yur Zotõ3ç/ ¸xϹr&ur *                                      

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.[9]

Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk mengingat Allah sebanyak-banayknya diwaktu pagi dan petang, sebagian ulama menafsirkan “ mengingat Allah “ dalam ayat ini adalah berdzkir setelah selesai shalat wajib.

Ada 2 ulama besar muta-akhirin (periode belakangan sekitar abad 8 H) yang sama-sama menulis syarah (penjelasan) kitab Shahih Bukhari. Mereka adalah al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani al-Syafi’i yang menulis Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari dan al-Imam Badruddin al-Aini al-Hanafi yang menulis Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari. Kedua beliau adalah sejaman dan saling membantah dan memberikan tanggapan dalam tulisan-tulisan mereka. al-Bushairi menulisnya dalam kitab “Al-Laali’ wad Durar fil Muhakamah bainal Aini wa Ibni Hajar (Intan dan Permata dalam Menimbang antara Al-Aini dan Ibnu Hajar).”[10] keduanya- memberikan keterangan terhadap hadits yang sedang kita bahas yaitu hadits majelis dzikir. Cuplikan hadits di atas adalah:

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ

“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki malaikat yang berjalan –selain tugas utama- mencari majelis-majelis dzikir….dst”. (HR. Muslim: 4854 dari Abu Hurairah t).

al-Imam al-Aini membatasi pengertian majelis dzikir hanya pada majelis ta’lim. Beliau menyatakan:

قوله أهل الذكر يتناول الصلاة وقراءة القرآن وتلاوة الحديث وتدريس العلوم ومناظرة العلماء ونحوها

“Sabda beliau “ahli dzikir” meliputi shalat, membaca Al-Quran, membaca hadits, mengajar ilmu-ilmu (syariat), berdiskusi dengan ulama dan sebagainya.”

Sementara  al-Hafizh Ibnu Hajar membantahnya dan berkata:

ويؤخذ من مجموع هذه الطرق المراد بمجالس الذكر وانها التي تشتمل على ذكر الله بأنواع الذكر الواردة من تسبيح وتكبير وغيرهما وعلى تلاوة كتاب الله سبحانه وتعالى وعلى الدعاء بخيري الدنيا والآخرة

“Dan dapat diambil kesimpulan dari pengumpulan jalan hadits bahwa yang dimaksud majelis dzikir meliputi (perkumpulan) atas dzikrullah dengan berbagai macam dzikir yang ma’tsur (ada dalilnya,) yang berupa tasbih, takbir dan lainnya dan juga membaca Al-Quran dan berdo’a untuk kebaikan dunia dan akhirat.

وفي دخول قراءة الحديث النبوي ومدارسة العلم الشرعي ومذاكرته والاجتماع على صلاة النافلة في هذه المجالس نظر

Dan memasukkan “pelajaran hadits Nabi, pelajaran ilmu syar’i, diskusi atasnya, dan berkumpul untuk shalat sunnah” ke dalam pengertian majelis dzikir perlu ditinjau lagi.

والأشبه اختصاص ذلك بمجالس التسبيح والتكبير ونحوهما والتلاوة حسب وان كانت قراءة الحديث ومدارسه العلم والمناظرة فيه من جملة ما يدخل تحت مسمى ذكر الله تعالى

Yang lebih mendekati kebenaran adalah pengkhususan majelis dzikir dengan majelis tasbih, takbir dan lainnya serta membaca Al-Quran saja. Meskipun membaca hadits, mempelajari ilmu syar’i dan mendiskusikannya adalah termasuk dalam pengertian dzikrullah.”

Mufradat al-Hadits

إِنَّ sesungguhnya Allah. kata  إنّ adalah salah satu huruf nasab yang berfungsi untuk menasabkan isim dan merafa’kan khabar, kata ini digunakan untuk menguatkan kalimat yang sudah ada sesudahnya karena salah satu arti huruf tersebut adalah “ sesungguhnya”.  لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ bagi Allah yang Maha Mulya dan Maha Agung لِلَّهِ lafaz الله   para ulama dan pakar bahasa berbeda pendapat, sebagian besar ulama berpendapat bahwa nama itu Musytaq, (pecahan dari kata lain). Meskipun begitu mereka lalu berbeda pada akar katanya. Sibwaih meriwayatkan pendapat al-Khalil bahwa akar kata lafaz tersebut adalah الاء  yang sewazan dengan pola “ فعل “ partikel alif  lam (ال) dimasukkan mengganti huruf hamzah sehingga terbentuk lafzh الله   pendapat ini menegaskan bahwa kata tersebut berasal dari kata لاء yang kemudian dimasukkan partikel alif lam dengan makna تعظيم   (mengagungkan ), di antara ada yang berpendapat bahwa lafazh tersebut berasal dari kata (إله ) yang berarti penyembahan, dikatakan demikian karena sesungguhnya Allah adalah yang berhak disembah.[11] مَلَائِكَةً beberapa Malaikat, سَيَّارَةً berjalan sinonim dari lafazh يَطُوفُونَ berkeliling, فُضُلًا terus menerus, يَبْتَغُونَ mencari, مَجَالِسَ الذِّكْرِ  majelis Dzikir, وَإِذَا dan ketika, وَجَدُوا menjumpai, مَجْلِسًا majelis , فِيهِ dalam kalangan mereka, ذِكْرٌ dzikir, قَعَدُوا maka duduk,  مَعَهُمْ bersama mereka فَحَضَنَ  makamenaunginya (menyelimutkan), بَعْضُهُمْ sebagian mereka  بَعْضًا pada sebagian بِأَجْنِحَتِهِمْ dengan sayap mereka, حَتَّى sehingga, يَمْلَئُوا  memenuhi pada mereka, مَا بَيْنَهُمْ apa-apa di antara mereka, وَبَيْنَ dan di antara, سَمَاءِ langit, الدُّنْيَا dunia, فَإِذَا تَفَرَّقُوا maka ketika berpisah, عَرَجُوا naik, أَوْ صَعِدُوا naik,  إِلَى السَّمَاءِ kelangait, قَالَ bersabda Rasulullah, فَيَسْأَلُهُمْ maka bertanya pada mereka Malaikat,  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ Allah yang Maha Mulya lagi Maha Agung, وَهُوَ  dan Allah, أَعْلَمُ Dzat Yang Maha Tahu, مِنْ أَيْنَ  dari mana, جِئْتُمْ datang kalian, فَيَقُولُونَ maka menjawab mereka, جِئْنَاكَ datang kami Pada Engakau, مِنْ عِنْدِ dari sisi عِبَادٍ hamba-Mu, لَكَ bagi hamba-Mu فِي الْأَرْضِ di bumi, يُسَبِّحُونَكَ bertasbih mereka pada-Mu, وَيُكَبِّرُونَكَ dan mengagungkan (bertakbir), وَيَحْمَدُونَكَ dan bertahmid, وَيُهَلِّلُونَكَ dan bertahlil, وَيَسْأَلُونَكَ dan bermohon pada-Mu, قَالَ berfirman Allah, وَمَاذَا dan apa يَسْأَلُونِي permintaannya mereka pada-Ku, قَالُوا menjawab mereka Malaikat, يَسْأَلُونَكَ bermohon mereka pada-Mu, جَنَّتَكَ Surga-Mu,  قَالَ berfirman Allah, وَهَلْ رَأَوْا dan apakah mereka pernah melihat,  جَنَّتِي surga-Ku, قَالُوا berkata mereka, لَا belum,  أَيْ رَبِّ belum Ya Rabb, قَالَ berfirman Allah, فَكَيْفَ maka bagaimana, لَوْ قَدْ رَأَوْا seandainya tahu mereka جَنَّتِي pada surgaKu, قَالُوا berkata mereka, وَيَسْتَجِيرُونَكَ maka minta diselamatkan mereka (perlindungan) pada-Mu, قَالَ berfirman Allah, مِمَّ dari apa يَسْتَجِيرُونِي minta diselamatkan mereka padaKu, قَالُوا menjawab mereka Malaikat, مِنْ نَارِكَ dari NerakaMu يَا رَبِّ, Ya Rabb, قَالَ berfirman Allah,  وَهَلْ رَأَوْا dan apakah mereka pernah melihat نَارِي NerakaKu قَالُوا berkata mereka Malaikat, لَا belum,  قَالُوا berkata mereka Malaikat  وَيَسْتَغْفِرُونَكَ dan beristighfar (minta ampun) mereka, قَالَ berfirman Allah ,  فَيَقُولُ maka berkata Malaikat, قَالَ berfirman Allah,  قَدْ غَفَرْتُ sungguh telah mengampuni Aku, لَهُمْ pada mereka, وَأَعْطَيْتُهُمْ dan telah member Aku pada mereka, مَا سَأَلُوا pada apa-apa yang telah minta mereka  وَأَجَرْتُهُمْdan menyelamatkan Aku pada mereka, مِمَّا dari apa-apa  اسْتَجَارُوyang minta diselamatkan dari Neraka, قَالَ berfirman Allah, فَيَقُولُ maka berkata Malaikat, رَبِّ Ya Allah, فِيهِمْ di dalam kalangan mereka, فُلَانٌ Fulan, عَبْدٌ hamba خَطَّاءٌ pendosa, إِنَّمَا sesungguhnya, مَرَّ kebetulan lewat, فَجَلَسَ lalu duduk مَعَهُمْ bersama mereka, قَالَ bersabda Rasulullah Saw, فَيَقُولُ maka berfirman Allah, قَدْ غَفَرْتُ sungguh telah mengampuni Aku, لَهُمْ pada mereka هُمْ karena mereka الْقَوْمُ berkumpul dengan suatu kaum لَا يَشْقَى yang tidak akan celaka, بِهِمْ dengan mereka, جَلِيسُهُمْ teman duduk mereka.

 

Sebab Periwatan Hadis

            Sebab periwayatan hadis adalah sebab-sebab yang melatar belakangi hadis tersebut disabdakan, dalam hal ini secar implisit ketika diperhatikan matan hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, yang datang dari Yahya bin Sa’id dari Abdillah bin Sa’id dari Abi Ziyad Mawla Ayyasy dari Abi Darda’ yaitu pertanyaan Rasulullah kepada Sahabat adapun isi dari pertanyaannya tersebut adalah Rasulullah bersabda; ”Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari diberi emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Apa yang demikian itu Ya Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Mulya dan Maha Agung”.

 

Fikih Hadis

Diantara fikih hadis tentang keutamaan berdzikir adalah 1) Hadis ini adalah salah satu dalil yang menjelaskan tentang berdzikir kepada Allah sangat penting untuk membersihkan hati, sehingga orang mu’min dianjurkan untuk mengamalkan dzikir kepada Allah baik berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring, sebab dengan adanya berdzikir kepada Allah maka hati seseorang akan menjadi tenang, tentram dan damai. 2) Dzikir merupakan amalan yang esensinya mengingat dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah di mana saja berada dan bagaimanapun keadaannya. Dzikir tersebut diucapkan (dilafazhkan) tadzikrah maupun dzikrillah secara zhahir maupun secara sir . Dengan berdzikir kepada Allah maka akan menambah ketenangan hati dan nafsu Muthmainnah akan tetap terpelihara dan pemanfaatan nafsu kearah yang positif dapat tercapai dengan baik sesuai dengan syariat. 3) berdzikir kepada Allah secara rutin dan terus-menerus sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat di atas tersebut, yakni berdzikir sebanyak-banyaknya baik di waktu pagi siang maupun di waktu sore dan malam sebanyak-banyaknya tanpa batas hitungan akan menambah amalan ibadah dan hati akan menjadi tenang, lapang, tentram yang muaranya adalah taqarrub Ilallah. 4) Semua majelis dzikir masyarakat yang kegiatannya meliputi shalat, membaca Al-Quran, membaca hadits, mengajar ilmu-ilmu (syariat), berdiskusi dengan ulama dan berdo’a untuk kebaikan dunia dan akhirat yang dilakukan di era medernisasi dan globalisai tidak boleh dilarang, dihalangi, apa lagi dibubarkan karna bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW. sebagam yang telah dipaparkan dalam kajian ini.

 

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Dzikir merupakan amalan yang esensinya mengingat dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah di mana saja berada dan bagaimanapun keadaannya. Dzikir tersebut diucapkan (dilafazhkan) tadzikrah maupun dzikrillah secara zhahir maupun secara sir . Dengan berdzikir kepada Allah maka akan menambah ketenangan hati dan nafsu Muthmainnah akan tetap terpelihara dan pemanfaatan nafsu kearah yang positif dapat tercapai dengan baik sesuai dengan syariat. Kesadaran berhubungan dengan Allah (Hablun Min Allah) itulah yang disebut dengan dzikir . Secara faktual dzikir memang merupakan pekerjaan rutin bagi orang-orang yang beriman, dengan menyebut Asma Allah dengan jumlah hitungan yang berbeda-beda seperti sebelas tiga puluh tiga Sembilan puluh Sembilan yang terkenal dengan Asma’ul Husnah. Salah satu instrument yang ditetapkan al-Qur’an adalah perintah berdzikir sebanayk-banyaknya tanpa batas hitungan, ditegaskan dalam firman Allah Q.S. al-Ahzab (33): 41-42 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
  2. Hasil dari takhrij bahwa hadis tentang urgensi dzikir diriwayatkan oleh 3 orang Mukharrij al-Hadis yaitu: 1) Bukhari dalam al-Shahih Kitab al-Tawhid bab, Fadhl al-Dzikr Allah ‘Azza wa Jalla, 5929, 2) Muslim dalam al-Shahih Kitab al-Dzikr wa al-Du’a wa al-Tawbah bab Fadhl Majlis al-Dzikr No. 4854. 3) Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad Kitab Musnad al-Muksyirin No. 7117, 8714
  3. Dengan demikian hadis yang menjelaskan tentang urgensi Dzikir apabila ditinjau dari matannya dapat dinyatakan berkualitas Shahih dilihat dari persambungan sanad-nya mutashil, dilihat dari pihak yang disandarinya pada akhir matan marfu’, dilihat dari penyandaran beritanya nabawi
  4. Saran-saran

Semoga artikel ini dapat menjadi reverensi maupun sebagai salah satu acuan bagi masyarakat bagaimana menyikapi permasalah yang marak terjadi akhir-akhir ini yaitu pelarangan, penghadangan dan bahkan pembubaran majelis-majelis dzikir yang dilakukan oleh beberapa oknum tertentu. Kegiatan majelis dzikir yang dilakukan masyarakat Islam harus dilestarikan, dijaga dan dihormati sebagai bagian kepatutan, ketaatan dan keimanan masyarakat muslim diera modernisasi dan globalisasi dalam menjalankan perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah Saw.

 

[1]Nawir Yuslem, Ulumul Hadis , ( Jakarta, PT Mutiaraa Sumber Widya, 2001), h. 389

[2]Al-Hafizh Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhariy, Shahih Bukhariy,  Juz I, VI ( Bandung, al-Ma ‘arif,tt), h. 11,,87

[3]Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz I (Bandung, Dahlan, tt) h. 27 

[4]Abu Abdillah ibn Muhammad ibn Hanbal al-Marwazy,  bi syarah Hamzah Ahmad Zain, Musnad Ahmad bin Hanbal, (al-Qahirah, Dar al-Hadits,tt)

[5] Ibid, h. 440

[6] Azmi, Studies in Early Hadith Literature, h.37-38, (dikutip dari Nawir Yuslem, Ulumum Hadis, h.443)

[7]Izz al-Din bin Atsir bin Abi Hasan Ali Muhammad bin Hizriyah, Jalal al-Din al-Suyuti, Ta’dil al-Jarh (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), h. 321

[8]Ibnu Hajar al-Asqalany, Tahdzib al-Tahdzib,  (India: Majelis  Dairah al-Ma’arif al-Nizamiyah, 1983), h. 405

[9]Departemen Agama RI.  Op.cit. 532

[10]Al-Busyairi, al-I’lam liz zirikli, Jld. III (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 334

[11]Ahmad ibn Fariz ibn Zakariyah, al-Mu’jam al-Muqayyis Fi al-lughah ( Bairut , Dar al-Fikr, 1994), h. 86

References

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim
Al-Hadis Rasulullah SAW.
Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhariy, Shahih Bukhariy, Juz I, VI Bandung, al-Ma ‘arif,tt
Ahmad ibn Fariz ibn Zakariyah, al-Mu’jam al-Muqayyis Fi al-lughah Bairut , Dar al-Fikr, 1994
Ahmad ibn Muhammad ibn Hambal, Musnad Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hambal, (Kairo: Darul Hadits juz.8, 1990)
al-Busyairi, al-I’lam liz zirikli, Jld. III Beirut: Dar al-Fikr, tt
Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 2006)
Ibnu Hajar al-Asqalany, Tahdzib al-Tahdzib, India: Majelis Dairah al-Ma’arif al-Nizamiyah, 1983
Izz al-Din bin Atsir bin Abi Hasan Ali Muhammad bin Hizriyah, Jalal al-Din al-Suyuthi, Ta’dil wa al-Jarah, Beirut: Dar al-Fikr, 1999
M. Arief Halim, Metodologi Tahqiq Hadith Secara Mudah dan Munasabah ( Pulau Pinang: University Sains Malaysia, 2007),
Shalah al-Din Ahmad al-Adhabi, Manhaj al-Naql al-Matn al-Hadis, (Cet. II; Kairo: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1983
Published
2018-12-02
Section
Articles